MISTERI DI BALIK KEMATIAN MAMA ALVIN: PERTENGKARAN, SAKSI MEMBISU, DAN DUGAAN LUKA TAK WAJAR
Letedimmuna, siletsumba.com - SBD, SiletSumba.com — Tirai misteri kematian almarhumah Damaris Ronga Milla Mesa alias Mama Alvin perlahan mulai terbuka. Fakta-fakta yang sebelumnya terpisah kini membentuk satu rangkaian peristiwa yang memicu kecurigaan publik.
Mengacu pada pemberitaan yang telah dimuat SiletSumba.com sebelumnya, ditemukan dugaan adanya luka akibat sayatan benda tajam serta benturan benda tumpul pada tubuh almarhumah. Temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa kematian korban tidak bisa serta-merta dianggap wajar.
Di sisi lain, pengakuan suami korban, Marten Malo Nono alias Bapak Alvin, di hadapan penyidik PPA Reskrim Polres Sumba Barat Daya, justru membuka lapisan penting.
Ia mengakui bahwa terjadi keributan dan pertengkaran dengan istrinya sebelum korban dinyatakan hilang. Namun ia membantah adanya pemukulan, dengan situasi saat malam itu:
listrik padam
hujan disertai angin
kondisi gelap gulita
Pernyataan ini tidak serta-merta menutup ruang pertanyaan. Justru sebaliknya, dalam kondisi gelap dan cuaca ekstrem, potensi terjadinya tindakan di luar kendali menjadi semakin terbuka.
Sorotan berikutnya mengarah pada dua saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian, yakni Mama Okta dan Agustina Lende alias Mama Nona.
Keduanya diduga berada dalam lingkaran peristiwa pada 20–21 Januari 2026 di Kampung Letedimmu, Desa Dedepada. Secara logika, mereka memiliki kemungkinan untuk mengetahui, melihat, atau mendengar sesuatu yang krusial.
Namun fakta yang muncul justru memperkuat tanda tanya.
Saat keluarga korban datang mencari informasi, respons yang diberikan cenderung tertutup.
Dan yang paling mencolok, ketika dimintai keterangan di hadapan penyidik PPA Reskrim Polres Sumba Barat Daya, Mama Okta dan Agustina Lende alias Mama Nona hanya menangis dan meneteskan air mata tanpa memberikan keterangan yang jelas.
Dalam perspektif investigasi, sikap ini bukan sekadar reaksi emosional biasa.
Diam yang disertai tangisan kerap berada di wilayah antara ketakutan, tekanan, atau adanya fakta yang belum berani diungkapkan.
Jika seluruh potongan fakta ini dirangkai:
adanya pertengkaran sebelum korban hilang
kondisi malam yang gelap dan tidak terkendali.
Dugaan luka akibat benda tajam dan tumpul
serta saksi kunci yang memilih diam dalam tangisan
maka muncul satu pertanyaan besar yang tak bisa dihindari:
Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu?
SiletSumba menilai, kasus ini tidak boleh berhenti pada keterangan normatif yang tidak utuh. Penyidik PPA Reskrim Polres Sumba Barat Daya harus melakukan pendalaman serius, termasuk:
- menguji konsistensi pengakuan suami korban
- menggali lebih dalam keterangan Mama Okta dan Mama Nona
- serta mengungkap secara terang asal-usul luka pada tubuh almarhumah Damaris Ronga Milla Mesa alias Mama Alvin.
Karena jika dugaan luka akibat benda tajam dan tumpul terbukti benar, maka perkara ini telah masuk pada indikasi kuat dugaan tindak kekerasan yang tidak boleh dibiarkan kabur.
Publik kini menunggu, bukan sekadar penjelasan, melainkan keberanian aparat untuk membongkar kebenaran yang masih tersembunyi di balik diam dan air mata.