Jembatan Kehidupan di Ujung Risiko
Jembatan bambu darurat Dikira, siletsumba.com - Minggu, 22 Februari 2026 — Di bawah hujan yang mengguyur Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, Satuan Brimob PELOPOR C bergerak tanpa ragu. Kegiatan ini berada dalam jajaran Polda NTT di bawah kepemimpinan Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., serta Dansat Brimob Polda NTT Kombes Pol Afrizal Asri, S.I.K.
Di lapangan, Danyon Denis Laihitu memimpin langsung anggotanya bersama Kepala Desa Dikira, Yulius Anggo Ate, dan tiga operator sensor kayu.
Kayu bulat dan kayu balok sepanjang kurang lebih 25 meter dipikul dari atas bukit, melewati pematang sawah dan padi milik warga. Tanah berubah menjadi lumpur, batu sungai menjadi licin. Kayu tidak dibawa melintasi jembatan bambu darurat, tetapi diturunkan ke sungai lalu diangkat dan ditarik menggunakan tali, melawan arus yang deras.
Beberapa anggota Brimob di lapangan jatuh bangun karena licinnya jalan dan bebatuan. Seragam basah oleh hujan. Sepatu tertanam lumpur. Tangan tergores. Namun mereka bangkit kembali. Dengan semangat patriotisme yang membara, para anggota terus bekerja di tengah hujan, tanpa mengeluh, tanpa menyerah.
Hari kedua, setelah selesai beribadah di gereja pada Minggu pagi, pekerjaan kembali dilanjutkan. Doa telah dipanjatkan, dan pengabdian diteruskan di medan yang sama: lumpur, sungai, dan risiko.
Dari atas jembatan bambu darurat setinggi sekitar 15 hingga 20 meter dari permukaan sungai, jurnalis silet Sumba mendengar kisah Julius, warga Desa Dikira. Hampir setiap minggu ada anak sekolah yang terjatuh saat menyeberang. Hingga kini belum ada korban jiwa, karena mereka bisa berenang. Namun keselamatan tidak seharusnya bergantung pada keberuntungan.
Jembatan ini adalah jembatan kehidupan.
Ia menghubungkan pendidikan dan harapan.
Namun setiap hari ia juga menyimpan ancaman nyata.
Di Desa Dikira, di bawah hujan yang tak kunjung reda, para anggota Brimob bekerja bukan untuk dilihat — tetapi agar anak-anak tak lagi menyeberangi maut demi sekolah.
Dari lokasi jembatan darurat, jurnalis silet Sumba melaporkan:
Jika akses ini terus dibiarkan darurat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya tenaga dan kayu — tetapi masa depan generasi.