Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
26 February 2026 - 23:01 WITA

“Jalan Rusak, Rakyat Terluka: Jeritan Wewewa Menunggu Sentuhan Bupati, Gubernur, Hingga Presiden Prabowo Subianto"

“Jalan Rusak, Rakyat Terluka: Jeritan Wewewa Menunggu Sentuhan Bupati, Gubernur, Hingga Presiden Prabowo Subianto"
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Raba Ege, siletsumba.com - Sumba Barat Daya — Jalan bukan sekadar bentangan tanah dan batu. Jalan adalah urat nadi kehidupan. Ketika jalan rusak, maka yang sesungguhnya retak adalah harapan rakyat.

Dari Pudda (Desa Tena Teke) di Wewewa Selatan, Wanno Kasa (Raba Ege) di Wewewa Barat, Desa Taramata di Wewewa Tengah, hingga Desa Ekapata dan Elopada di Wewewa Timur, masyarakat setiap hari bergulat dengan debu di musim kemarau dan lumpur pekat di musim hujan. Anak-anak sekolah berjalan kaki melewati jalan berlubang. Petani kesulitan membawa hasil bumi ke pasar. Ibu hamil dan orang sakit mempertaruhkan keselamatan di atas kendaraan yang terombang-ambing oleh kerusakan jalan.

Ini bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ini soal keadilan pembangunan.

Perwakilan masyarakat lintas kecamatan, Pdt. Marthen Bulu Dairo, S.Th., menyampaikan permohonan rehabilitasi dan pengaspalan (Hotmix) sebagai kebutuhan mendesak, bukan keinginan mewah.

Masyarakat tidak meminta yang berlebihan — mereka hanya meminta akses yang layak untuk hidup dan berkembang.

Kepada Bupati Sumba Barat Daya, masyarakat menaruh harapan agar suara dari pedalaman tidak berhenti di meja administrasi. Kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur, rakyat berharap pemerataan pembangunan tidak hanya menjadi slogan, tetapi nyata terasa hingga pelosok Wewewa.

Dan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, rakyat kecil di Sumba Barat Daya menaruh asa agar semangat pembangunan yang berkeadilan benar-benar menjangkau wilayah timur Nusantara — bukan hanya di peta, tetapi di atas tanah yang mereka pijak setiap hari.

Karena ketika jalan diperbaiki, ekonomi bergerak. Ketika akses terbuka, pendidikan tumbuh. Ketika infrastruktur hadir, maka negara benar-benar dirasakan.

Silet Sumba mencatat: jeritan ini bukan keluhan tanpa dasar, melainkan panggilan tanggung jawab. Jalan rusak tak boleh menjadi takdir. Pembangunan harus menjawab, bukan sekadar berjanji.

Kini bola ada di tangan para pemangku kebijakan.

Rakyat Wewewa menunggu — bukan janji, tetapi aksi.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.