Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
18 March 2026 - 20:03 WITA

DISIRAM AIR KERAS! AKTIVIS HAM JADI TARGET — EMPAT OKNUM TNI DIBORGOL, PUBLIK MENDIDIH!

DISIRAM AIR KERAS! AKTIVIS HAM JADI TARGET — EMPAT OKNUM TNI DIBORGOL, PUBLIK MENDIDIH!
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Jakarta, siletsumba.com - Jakarta, Rabu (18/3) — Negeri ini kembali diguncang. Bukan oleh musuh dari luar, tapi oleh tangan-tangan dari dalam. Aktivis HAM Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras dalam sebuah aksi brutal yang kini menyeret nama institusi militer.

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia akhirnya buka suara. Empat anggotanya resmi ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah SL (Lettu), NDP (Kapten), BHW (Lettu), dan ES (Serda)—nama-nama yang kini menjadi sorotan tajam publik.

Mereka bukan orang sembarangan. Para tersangka berasal dari Denma Bais TNI—lingkar dalam intelijen strategis, melibatkan unsur TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Laut. Fakta ini langsung memicu gelombang kecurigaan: apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar kekuasaan?

Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Yusri Nuryanto, memastikan keempatnya telah diamankan dan kini mendekam di sel pengamanan maksimum di Pomdam Jaya.

Namun pernyataan resmi justru memantik tanda tanya baru.

“Motif belum diketahui… peran masing-masing masih didalami… eksekutor ada dua orang.”

Belum diketahui?

Di tengah luka korban dan kemarahan publik, jawaban itu terasa dingin—bahkan menusuk.

AKTIVIS DISERANG, DEMOKRASI DIPERTARUHKAN

Kasus ini bukan sekadar kriminal biasa. Ini menyasar aktivis HAM—orang yang berdiri di garis depan membela keadilan. Serangan terhadap Andrie Yunus memunculkan kekhawatiran besar:

apakah ruang kritik di negeri ini mulai disiram ketakutan?

Publik kini menuntut lebih dari sekadar penahanan:

Siapa dalangnya?

Apakah ada perintah dari atas?

Atau ini operasi liar yang gagal dikendalikan?

SUMBA BERSUARA: JANGAN ADA YANG DITUTUPI!

Dari Jakarta hingga pelosok negeri, termasuk di Sumba, suara rakyat mulai mengeras. Kasus ini tidak boleh berhenti di level “oknum”. Transparansi adalah harga mati.

Jika tidak dibuka terang-benderang, luka ini bukan hanya milik korban—

tapi luka bagi kepercayaan publik terhadap negara.

CATATAN SILET SUMBA:

Ketika aparat yang seharusnya melindungi justru diduga melukai, maka yang terancam bukan hanya satu nyawa—

tapi masa depan keadilan itu sendiri.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.