Di Balik Tugas Jurnalistik, Ada Luka yang Tak Terlihat: Fabianus Tibo Terbaring, Solidaritas Menguat
Bukambero, siletsumba.com - SUMBA BARAT DAYA, NTT — Perjalanan seorang jurnalis tak selalu berakhir pada berita yang terbit. Ada kalanya, perjalanan itu justru berujung luka.
Itulah yang dialami Fabianus Tibo, wartawan BrantasTipikorNews, yang pada Senin pagi (30/03/2026) mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas peliputan dari Kodi Bangedo menuju Waitabula.
Di Bukambero, Kecamatan Kodi Utara, langkahnya terhenti tiba-tiba. Seekor anjing yang melintas mendadak membuat kendaraannya kehilangan kendali. Ia terjatuh ke lokasi yang cukup dalam—sendiri, terluka, dan jauh dari keramaian.
Namun di titik itulah, kemanusiaan hadir.
Warga Bukambero tanpa ragu datang menolong. Mereka mengangkat, mengevakuasi, dan memastikan Tibo segera dibawa ke RS Karitas Waitabula. Tangan - tangan sederhana itu menjadi penopang harapan di tengah kondisi yang tak mudah.
Di ruang perawatan, Tibo terbaring dengan luka di hidung, kedua telapak tangan, dan kaki kiri. Pakaian yang dikenakannya robek, tubuhnya dipenuhi kotoran—jejak nyata dari kerasnya jalan yang ia lalui demi sebuah tugas.
Tak lama, satu per satu rekan seprofesi datang. Ketua, Sekretaris, dan anggota Forum Jurnalis Sumba (FORJIS) hadir, bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai keluarga.
Tak banyak kata yang diperlukan. Kehadiran mereka sudah cukup menjelaskan: bahwa dalam dunia jurnalistik, solidaritas bukan sekadar slogan.
Sebuah tindakan kecil namun penuh makna pun dilakukan. Sekretaris FORJIS memberikan bantuan untuk membelikan pakaian pengganti—agar sahabat mereka bisa sedikit merasa lebih nyaman di tengah perawatan.
Peristiwa ini bukan hanya tentang kecelakaan. Ini tentang pengorbanan, tentang ketulusan warga, dan tentang eratnya persaudaraan di antara jurnalis.
Hari ini, Fabianus Tibo masih dalam perawatan. Namun ia tidak sendiri. Ada doa, ada perhatian, dan ada harapan yang terus mengalir.
Semoga luka itu segera pulih.
Semoga langkahnya kembali kuat.
Dan semoga semangatnya tetap berkobar, seperti selama ini ia mengabdi dalam diam.