Di Atas Lumpur dan Arus Deras, Brimob Menanam Nurani di Desa Dikira
Jembatan gantung, siletsumba.com - Sabtu, 21 Februari 2026 —
Ada mata untuk melihat penderitaan.
Ada telinga untuk mendengar jeritan yang lama terpendam.
Ada kaki untuk melangkah ke tempat yang sulit dijangkau.
Ada tangan untuk bekerja, bukan menunjuk.
Ada hati untuk peduli, bukan sekadar berjanji.
Di Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, jembatan bambu darurat itu bukan sekadar lintasan kayu. Ia adalah simbol kelalaian yang terlalu lama dibiarkan. Licin. Rapuh. Menggantung di atas arus sungai yang tak pernah kompromi.
Setiap hari anak-anak sekolah menantang maut demi selembar masa depan.
Setiap hari ibu-ibu menjunjung hasil kebun melewati bambu yang berderit.
Setiap hari warga Desa Dikira dan Desa Dangga Manu menggantungkan harapan pada batang-batang tua yang sewaktu-waktu bisa patah.
Lalu datanglah satuan Brimob Pelopor C.
Dipimpin Danyon Denis Y. N. Laihitu, SH, mereka turun bukan dengan arogansi kekuasaan, tetapi dengan kesadaran kemanusiaan. Bersama Kepala Desa Dikira, Yulius Anggo Ate, mereka memanggul kayu bulat, mengangkat papan, menanam tiang ke dasar sungai yang berlumpur.
Hujan turun tanpa ampun.
Tanah menjadi lumpur.
Arus sungai menggigit kaki.
Namun mereka tetap berdiri.
Tangan-tangan berseragam itu hari itu bukan menggenggam senjata, melainkan menggenggam kayu harapan. Mereka bergandengan, menancapkan balok, menyusun papan demi papan menjadi jalan yang lebih layak dilalui anak-anak sekolah dan ibu-ibu pencari nafkah.
Di daerah terpencil ini, pelayanan bukan slogan. Ia adalah kerja nyata. Ia adalah keringat yang jatuh tanpa kamera. Ia adalah lumpur yang melekat tanpa keluhan.
Brimob Pelopor C Kabupaten Sumba Barat Daya menunjukkan bahwa keamanan tidak hanya soal menjaga dari ancaman, tetapi juga menjaga masa depan dari keterputusasaan.
Negara hadir ketika nurani bekerja.
Dan di Desa Dikira, pada hari itu, negara tidak berbicara — negara bekerja.
Sementara banyak pihak mungkin masih sibuk menyusun rencana, di tepi sungai kecil itu harapan sudah lebih dulu ditanam.
Karena bagi mereka, tugas bukan sekadar perintah.
Tugas adalah panggilan hati.