Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
24 February 2026 - 09:37 WITA

Darah, Doa, dan Tekad: Jembatan Kehidupan di Dikira Harus Jadi

Darah, Doa, dan Tekad: Jembatan Kehidupan di Dikira Harus Jadi
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Jembatan bambu darurat Dikira, siletsumba.com - Dikira, Kecamatan Wewewa Timur – 23–24 Februari 2026

Hujan turun deras. Sungai meluap, arusnya menggila. Namun di tengah cuaca yang tak bersahabat itu, personel SAT BRIMOBDA NTT Batalyon C Pelopor Sumba Barat Daya tetap berdiri tegak di lokasi pembangunan jembatan Desa Dikira.

Kayu-kayu bulat dan balok sepanjang kurang lebih 25 meter dipikul dari atas bukit yang licin. Lumpur menghisap langkah. Tali ditarik bersama-sama, mengikuti arus sungai yang deras agar material sampai ke titik pembangunan. Setiap detik adalah risiko.

Jurnalis Silet Sumba pun tak sekadar menjadi saksi. Ia turun langsung ke sungai yang dalam, bahu membahu bersama anggota Brimob menarik kayu. Saat membantu memaku dan mengangkat material, jari kelingkingnya terkena paku dan hantaman palu hingga mengeluarkan darah. Luka itu menjadi bukti bahwa perjuangan ini nyata—bukan hanya ditulis, tetapi dijalani.

Di tengah hujan yang tak henti, Komandan Batalyon, Denis Y.N. Laihitu, berdiri bersama pasukannya. Dengan doa dan keyakinan, ia terus membakar semangat anggota di lapangan. Satu tekad yang dipegang teguh: jembatan harus jadi, apa pun kesulitan yang menghadang.

Ia memberi komando, memastikan keselamatan, sekaligus menjadi penguat moral. Dalam lumpur dan derasnya arus, suara semangatnya menjadi penopang keteguhan hati para anggota.

Satuan dari Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur itu bekerja dengan hati yang peduli dan niat tulus tanpa pamrih. Dari jembatan bambu darurat yang rapuh, kini dibangun jembatan kayu dan papan yang lebih kokoh—yang akan memberi rasa aman, nyaman, dan tenteram bagi anak-anak sekolah yang setiap hari menyeberangi sungai demi masa depan mereka.

Memasuki hari ke-4, Selasa 24 Februari 2026, pekerjaan terus dilanjutkan hingga tuntas dalam beberapa hari ke depan. Tidak ada kata mundur. Tidak ada kata menyerah.

Seragam basah. Tangan lecet. Jari berdarah.

Namun doa lebih kuat dari hujan.

Tekad lebih deras dari arus sungai.

Di Dikira, jembatan itu bukan sekadar kayu dan papan.

Ia adalah simbol keberanian, kepedulian, dan cinta tanpa pamrih.

Dan dengan satu keyakinan yang sama:

Jembatan ini harus jadi.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.